-->

Halaman

    Social Items

Ada Freud di kopiku

Ada Freud di kopiku

Oleh: Ade Novit Rahmawan
“Menepi, menyepi, menulis puisi dan sajak bersama kepulan asap dan secangkir kopi. Ada Freud di kopiku, dan ada kau di cangkirku”
Andai saja ada pilihan lain selain kopi, aku ingin kau berdiri melambai, menyapaku sambil berucap “selamat pagi”, yang akan menjadi opsi pilihan lain yang akan kutuju. Meski cafein kopi akan selalu meyeretku, kurasa memang kau yang bisa menjadi netralirnya. Jika kopi punya cafein yang akan membuat seorang merasa tenang, aku punya kau, yang selalu membuatku merasa nyaman.

Aku selalu membayangkan dan kadang menduga, apakah kau adalah kopi yang berwujud manusia ?, yang membuatku candu, dan akan selalu candu, duduk berdua bersamamu, manisku. Kau pun tahu, aku adalah salah satu dari jutaan manusia yang suka meneguk kopi. Kau pun juga tahu, aku adalah salah satu dari jutaan anak Adam yang suka menghabiskan waktu bersama, kopi.

Pagi ini, lagi-lagi aku memang dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa ternyata tak ada pilihan lain, selain kopi. Tak ada tangan yang melambai, tak ada ucapan “selamat pagi”, tak ada manusia perwujudan kopi !!!, tak ada. semua hanya ilusi. Semua hanya imaji. Dan aku tak punya apa-apa selain kopi yang dari tadi tak aku hiraukan sama sekali. Aku juga tak tahu, sampai kapan kopi ini menjadi regresi, represi, dan sublimasiku seperti apa yang Sigmund Freud bilang.

Menepi, menyepi, menulis puisi dan sajak bersama kepulan asap dan secangkir kopi. Ada Freud di kopiku, dan ada kau di cangkirku.

Nah sobat demikian artikel tentang Ada Freud di kopiku semoga bermanfaat.

2017 © Pena Kecil (https://tulispenakecil.blogspot.com*).


Ada Freud di kopiku

Ada Freud di kopiku

Ada Freud di kopiku

Oleh: Ade Novit Rahmawan
“Menepi, menyepi, menulis puisi dan sajak bersama kepulan asap dan secangkir kopi. Ada Freud di kopiku, dan ada kau di cangkirku”
Andai saja ada pilihan lain selain kopi, aku ingin kau berdiri melambai, menyapaku sambil berucap “selamat pagi”, yang akan menjadi opsi pilihan lain yang akan kutuju. Meski cafein kopi akan selalu meyeretku, kurasa memang kau yang bisa menjadi netralirnya. Jika kopi punya cafein yang akan membuat seorang merasa tenang, aku punya kau, yang selalu membuatku merasa nyaman.

Aku selalu membayangkan dan kadang menduga, apakah kau adalah kopi yang berwujud manusia ?, yang membuatku candu, dan akan selalu candu, duduk berdua bersamamu, manisku. Kau pun tahu, aku adalah salah satu dari jutaan manusia yang suka meneguk kopi. Kau pun juga tahu, aku adalah salah satu dari jutaan anak Adam yang suka menghabiskan waktu bersama, kopi.

Pagi ini, lagi-lagi aku memang dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa ternyata tak ada pilihan lain, selain kopi. Tak ada tangan yang melambai, tak ada ucapan “selamat pagi”, tak ada manusia perwujudan kopi !!!, tak ada. semua hanya ilusi. Semua hanya imaji. Dan aku tak punya apa-apa selain kopi yang dari tadi tak aku hiraukan sama sekali. Aku juga tak tahu, sampai kapan kopi ini menjadi regresi, represi, dan sublimasiku seperti apa yang Sigmund Freud bilang.

Menepi, menyepi, menulis puisi dan sajak bersama kepulan asap dan secangkir kopi. Ada Freud di kopiku, dan ada kau di cangkirku.

Nah sobat demikian artikel tentang Ada Freud di kopiku semoga bermanfaat.

2017 © Pena Kecil (https://tulispenakecil.blogspot.com*).


Subscribe Our Newsletter