-->

Halaman

    Social Items

Untuk Dia Yang Aku Merindukannya
Dia yang Aku Rindukan
Dia sepertinya sudah menyelesaikan tugasnya untuk menemanimu, ucapkan terimakasih atas semua pelajaran yang telah dia berikan dan berpisahlah dengan saling mendoakan.
Demikianlah kalimat yang aku dengar dari seorang yang tak sengaja aku mengenalnya di warung kopi tempat biasanya aku menghabiskan hari.


Mungkin kalian akan bertanya mengapa dia mengatakan hal itu. Baiklah aku akan menceritakan sesuatu.

Untuk Dia Yang Aku Merindukannya

Oleh: Noer Al Boeyani

Saat kuliah aku pernah memiliki seorang sahabat, kami hampir setiap hari bersama. Rasanya sehari saja aku tak bersamanya seperti ada yang kurang di hari ku. Bukan lebay, tapi memang seperti itu adanya. Kami memiliki hobi yang hampir sama, itu sebabnya mengapa aku menikmati kebersamaan dengannya.

Aku suka bertukar cerita dengan dia, namun aku tidak suka ketika aku dan dia tidak bertegur sapa. Kalian tahu? Suatu hari pernah ada sedikit masalah diantara kami, kami pernah tiga hari tidak bertegur sapa hanya karena salah paham yang jika aku ingat kembali saat ini sangat lucu rasanya. Bagaimana tidak? Sudah sama-sama tua kok masih saja gak ada yang mau ngalah. Aku menyalahkan dia dan sebaliknya. Oya “maaf kami belum tua kok. :-D”

Keakraban kami berdua berjalan cukup lama, sekitar... emmm... berapa lama ya? ah aku lupa!, lagi pula menurutku tidak penting mengingat bagaimana awal perkenalan kami sehingga bisa menjadi sahabat. Untuk apa mengingat proses? Toh yang kebanyakan orang-orang lihat bukan proses, tp hasil. Orang-orang akan bilang kita sukses jika kita bisa menghasilkan sesuatu. Tapi sangat jarang sekali dari mereka yang melihat bagaimana proses untuk menghasilkan sesuatu. Mungkin hanya opini ku saja yang mengatakan demikian.

Hari ini aku sangat merindukannya, ya, aku merindukan sahabatku. Hampir dua bulan lamanya sejak wisuda kami tidak bertemu. Kemarin aku berfikir meskipun tidak lagi bisa bertemu tapi masih ada sosial media yang masih bisa kami gunakan untuk saling memberi kabar. Aku salah.

Sejak waktu itu, aku merasa semuanya telah berakhir, aku tak lagi mendengar kabar tentangnya. Sempat aku mengabarinya namun akhirnya tak seperti yang aku bayangkan, aku fikir dia juga merindukan aku, nyatanya tidak. Dia seakan melupakan kebersamaan yang pernah kami bangun bersama saat masih kuliah. Ah... yasudahlah mungkin dia sibuk dengan dunia barunya. Hari ini aku memutuskan untuk tidak lagi mengganggunya meskipun itu sangat menyiksaku.

Itulah alasan mengapa aku mendengar kalimat dari seoraang yang tidak sengaja aku mengenalnya di warung kopi. Aku bercerita tentang sahabatku kepadanya. Perbincangan itu berakhir saat aku memutuskan untuk pulang karena mentari sudah mulai meredupkan sinarnya. Dan untuk kamu sahabatku, aku selalu mendoakan kebahagiaanmu.

Nah sobat demikian artikel tentang Untuk Dia Yang Aku Merindukannya semoga bermanfaat.

2018 © Pena Kecil (https://tulispenakecil.blogspot.com*).


Untuk Dia Yang Aku Merindukannya

Untuk Dia Yang Aku Merindukannya
Dia yang Aku Rindukan
Dia sepertinya sudah menyelesaikan tugasnya untuk menemanimu, ucapkan terimakasih atas semua pelajaran yang telah dia berikan dan berpisahlah dengan saling mendoakan.
Demikianlah kalimat yang aku dengar dari seorang yang tak sengaja aku mengenalnya di warung kopi tempat biasanya aku menghabiskan hari.


Mungkin kalian akan bertanya mengapa dia mengatakan hal itu. Baiklah aku akan menceritakan sesuatu.

Untuk Dia Yang Aku Merindukannya

Oleh: Noer Al Boeyani

Saat kuliah aku pernah memiliki seorang sahabat, kami hampir setiap hari bersama. Rasanya sehari saja aku tak bersamanya seperti ada yang kurang di hari ku. Bukan lebay, tapi memang seperti itu adanya. Kami memiliki hobi yang hampir sama, itu sebabnya mengapa aku menikmati kebersamaan dengannya.

Aku suka bertukar cerita dengan dia, namun aku tidak suka ketika aku dan dia tidak bertegur sapa. Kalian tahu? Suatu hari pernah ada sedikit masalah diantara kami, kami pernah tiga hari tidak bertegur sapa hanya karena salah paham yang jika aku ingat kembali saat ini sangat lucu rasanya. Bagaimana tidak? Sudah sama-sama tua kok masih saja gak ada yang mau ngalah. Aku menyalahkan dia dan sebaliknya. Oya “maaf kami belum tua kok. :-D”

Keakraban kami berdua berjalan cukup lama, sekitar... emmm... berapa lama ya? ah aku lupa!, lagi pula menurutku tidak penting mengingat bagaimana awal perkenalan kami sehingga bisa menjadi sahabat. Untuk apa mengingat proses? Toh yang kebanyakan orang-orang lihat bukan proses, tp hasil. Orang-orang akan bilang kita sukses jika kita bisa menghasilkan sesuatu. Tapi sangat jarang sekali dari mereka yang melihat bagaimana proses untuk menghasilkan sesuatu. Mungkin hanya opini ku saja yang mengatakan demikian.

Hari ini aku sangat merindukannya, ya, aku merindukan sahabatku. Hampir dua bulan lamanya sejak wisuda kami tidak bertemu. Kemarin aku berfikir meskipun tidak lagi bisa bertemu tapi masih ada sosial media yang masih bisa kami gunakan untuk saling memberi kabar. Aku salah.

Sejak waktu itu, aku merasa semuanya telah berakhir, aku tak lagi mendengar kabar tentangnya. Sempat aku mengabarinya namun akhirnya tak seperti yang aku bayangkan, aku fikir dia juga merindukan aku, nyatanya tidak. Dia seakan melupakan kebersamaan yang pernah kami bangun bersama saat masih kuliah. Ah... yasudahlah mungkin dia sibuk dengan dunia barunya. Hari ini aku memutuskan untuk tidak lagi mengganggunya meskipun itu sangat menyiksaku.

Itulah alasan mengapa aku mendengar kalimat dari seoraang yang tidak sengaja aku mengenalnya di warung kopi. Aku bercerita tentang sahabatku kepadanya. Perbincangan itu berakhir saat aku memutuskan untuk pulang karena mentari sudah mulai meredupkan sinarnya. Dan untuk kamu sahabatku, aku selalu mendoakan kebahagiaanmu.

Nah sobat demikian artikel tentang Untuk Dia Yang Aku Merindukannya semoga bermanfaat.

2018 © Pena Kecil (https://tulispenakecil.blogspot.com*).


Subscribe Our Newsletter