-->

Halaman

    Social Items

Mimpi dan kenyataan, tak usah takut, hadapi saja kenyataan

Takut Melihat Kenyataan dan mimpi tak akan lebih indah dari kenyataan

Bukan hanya badai yang menghalangi nelayan untuk pergi melaut. Tapi, dirinya yang takut untuk menyusuri samudera yang tak berbatas.

Sama halnya denganku yang takut hanya untuk sekedar melihat nyata!


Hari yang seperti ini, mengapa kau kembali lagi, kau membiarkan aku tanpa bersiap untuk menyambutmu. Kau membiarkanku seperti sebongkah danging yang tak berakal, kau membuatku bodoh di hadapannya.

Sudah banyak tenaga yang terkuras namun tak berbekas, aku bertanya “harus seberapa jauh lagi aku berlari? Harus seberapa banyak lagi waktu ku putar? Harus seberapa sering lagi aku bersembunyi di balik tabir itu untuk tak menatapmu kembali?

Aku takut, begitu takutnya aku hanya untuk menyebrangi samudra yang tak berbatas untuk melihat kenyataan.

Ah! Itu hanyalah ilusi, aku hanya membodohi diriku sendiri!
Ah! Aku membiarkan diriku digerayangi pikiran – pikiran buruk! Aku menjadikan diriku menjadi budak dari kemalasan ini! Mana mungkin aku terus bertahan untuk tidak memberanikan diri melihatmu, menatapmu dan mendengarmu.

Baiklah, mari kita mulai lagi, aku akan menyambutmu, melawan ketakutan dalam diri ini.

“Takut!” kau tidak akan lagi mampu mengalahkanku, tidak untuk hal ini! Tidak untuk membiarkan ku, menjadi mimpi yang nyata!

Demikian artikel tentang Takut Melihat Kenyataan, Semoga bermanfaat.

2017 © Pena Kecil – (https://tulispenakecil.blogspot.com*).

Takut Melihat Kenyataan

Mimpi dan kenyataan, tak usah takut, hadapi saja kenyataan

Takut Melihat Kenyataan dan mimpi tak akan lebih indah dari kenyataan

Bukan hanya badai yang menghalangi nelayan untuk pergi melaut. Tapi, dirinya yang takut untuk menyusuri samudera yang tak berbatas.

Sama halnya denganku yang takut hanya untuk sekedar melihat nyata!


Hari yang seperti ini, mengapa kau kembali lagi, kau membiarkan aku tanpa bersiap untuk menyambutmu. Kau membiarkanku seperti sebongkah danging yang tak berakal, kau membuatku bodoh di hadapannya.

Sudah banyak tenaga yang terkuras namun tak berbekas, aku bertanya “harus seberapa jauh lagi aku berlari? Harus seberapa banyak lagi waktu ku putar? Harus seberapa sering lagi aku bersembunyi di balik tabir itu untuk tak menatapmu kembali?

Aku takut, begitu takutnya aku hanya untuk menyebrangi samudra yang tak berbatas untuk melihat kenyataan.

Ah! Itu hanyalah ilusi, aku hanya membodohi diriku sendiri!
Ah! Aku membiarkan diriku digerayangi pikiran – pikiran buruk! Aku menjadikan diriku menjadi budak dari kemalasan ini! Mana mungkin aku terus bertahan untuk tidak memberanikan diri melihatmu, menatapmu dan mendengarmu.

Baiklah, mari kita mulai lagi, aku akan menyambutmu, melawan ketakutan dalam diri ini.

“Takut!” kau tidak akan lagi mampu mengalahkanku, tidak untuk hal ini! Tidak untuk membiarkan ku, menjadi mimpi yang nyata!

Demikian artikel tentang Takut Melihat Kenyataan, Semoga bermanfaat.

2017 © Pena Kecil – (https://tulispenakecil.blogspot.com*).

Subscribe Our Newsletter